Seni Menghancurkan

Dalam perkembangannya, konsep ekonomi kapitalisme mengalami penyimpangan. Kita dibuat untuk saling menghancurkan satu sama lain. Itupula yang terjadi dengan kondisi sosial dan politik hari-hari ini.

Sebuah kutipan yang diambil dari buku Biografi Salahuddin al-Ayyubi yang ditulis oleh John Man yaitu "Cium tangan manapun yang tidak bisa kau patahkan", yang saya artikan sebagai bentuk persaingan masa kini, "bunuh" atau "anda yang terbunuh".

Konsep ini bukan tanpa alasan, dengan landasan konsep cateris paribus, keterbatasan sumber daya yang kita miliki dan keterbatasan konsumsi barang dan jasa yang bisa dibeli oleh orang-orang, membuat penjual dengan segala yang ia miliki harus merebut pasar, membuat kita harus merebut pasar (para ahli kadang menyebutnya dengan disruption).

Dalam keadaan sosial pun sama. Diantara begitu banyak posisi "penting" yang ada di kelompok kelompok sosial, dengan jumlah yang terbatas. Membuat hanya sebagian orang yang mampu untuk menduduki posisi tersebut. Membuat kita sekali lagi (pada masa ini) berebut dengan saling "bunuh" atau "terbunuh".

Selanjutnya politik, tetap akan saya bahas, walaupun (mungkin) banyak yang tidak menyukai politik. Dalam politik kita semua tahu bahwa jumlah kursi dalam partai, DPR, DPD, atau jabatan eksekutif itu terbatas. Keterbatasan itu membuat sekali lagi kita (pada masa ini dan lalu) berebut dengan, sekali lagi, "bunuh" atau "terbunuh".

Mungkin sebagian dari kita tidak setuju dengan konsep saling menghancurkan ini, namun kenyataannya inilah yang terjadi. Tapi jika anda tetap bersikukuh bahwa kita  bisa saling maju, membantu satu sama lain, dan bekerja sama, berarti anda memiliki lingungan yang baik dan mendukung anda. Tetaplah berada di jalan anda sekarang karena mungkin dikemudian hari, andalah yang dapat menyatukan suara orang-orang.

Kembali ke pembahasan.

Konsep ini lahir (saling menghancurkan) akibat sifat dasar manusia yaitu serakah, penakut, dan bodoh. Kita sebagai manusia (buktinya anda bisa membaca), memiliki ambisi yang terkadang berlebih dan merugikan orang lain. Presiden Soekarno pernah mengatakan "jika aku tidak memiliki ego yang besar, bagaimana mungkin aku bisa menyatukan Indonesia" (dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, ditulis oleh Cindy Adam). 

Tidak ada yang salah dengan ambisi selama kita memiliki tujuan yang jelas, bermanfaat bagi orang yang membutuhkan, dan dilakukan dengan cara baik, karena tanpa ambisi manusia tidak mungkin mencapai kemajuan (bagi beberapa orang kemunduruan) peradaban yang seperi sekarang.

Sayangnya, entah dari awal salah, atau dalam perjalanannya, ambisi itu berubah, saya dan mungkin sebagian dari kita dari yang awalnya memiliki ambisi itu sekarang kitalah yang dikuasai oleh ambisi. Dari yang awalnya ambisi itu bertujuan untuk hal yang mulia kini menjadi hina, ada apa sebenarnya, apa penyebabnya?

Sebagai contoh pada kasus yang saya alami, usut punya usut ternyata ini terjadi akibat pengaruh dari pujian, membanggakan apa yang saya miliki dari masa lalu, dan kuasa yang dititipkan, entah itu materi atau jabatan. 

Jadi para pembaca, jangan jatuh kelubang yang sama. Belajar dari pengalaman orang lain tentang ambisi atau apapun itu, adalah metode belajar terbaik yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bisa melalui media apapun yang anda miliki atau bisa anda dapatkan.

Kesimpulannya, sebagian dari kita mungkin terkotak dalam konsep saling menghancurkan ini. Sebagian dari kita mungkin terikat dengan realita, kebutuhan hidup, dan kebodohan kita (saya). Dan mungkin sebagian dari kita harus menghancurkan yang lain agar memberikan makan kepada orang orang yang ada disekeliling kita. 

Dengan kata lain bahwa kita memiliki nilai yang berbeda satu sama lain. Tidak ada yang sepenuhnya benar, tidak ada yang sepenuhnya salah, karena kebenaran dan kesalahan yang sempurna itu hanya milik Tuhan. Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, sejarah telah menceritakan bahwa manusia akan mendapatkan ganjaran atas apa yang telah ia perbuat (termasuk nilai, pikiran, tulisan, dan ucapannya).

Silahkan masukkan kritik anda di kolom komentar. Semoga bermanfaat, sampai jumpa ditulisan berikutnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wawancara Pertama Gagal

Demi Masa

Keep open your eyes!