Demi Masa

    Aneh memang, walau usia saya yang masih senja seperti ini ada banyak hal yang saya sesali. Terhadap apa saya lakukan dan kenapa tidak saya lakukan. Ketika seharusnya saya memberikan kontribusi terhadap diri saya sendiri, orang lain, dan lingkungan saya, saya malah menyiakan-nyiakan hal itu dan lihat sekarang apa yang sudah saya lewatkan. Begitulah waktu, waktu itu relatif, waktu itu tidak bisa diulang, dan berlalu begitu saja tanpa pernah berpikir panjang tentang apa yang dia tinggalkan.
     Lalu saya berpikir terhadap sesuatu yang tidak bisa saya dapatkan di dunia, bukan karena saya tidak bisa tapi karena ada beberapa pertimbangan yang membuat saya tidak bisa mengambil pilihan tersebut. Terselip kata menyesal terhadap apa yang tidak saya ambil pada waktu dimana saya dihadapkan dengan hal itu. Tetapi walau bagaimanapun waktu akan terus berjalan, tidak peduli kita tertatih, tidak peduli kita merangkak, waktu tidak akan menunggu.
     Namun akhirnya saya paham, berapa kali pun kata penyesalan itu muncul dibenak saya hal itu tidak akan bisa mengubah mekanisme waktu yang terus berjalan. Pada akhirnya, pilihan yang membuat saya menyesal itulah yang nantinya akan membuat saya menjadi manusia yang lebih kuat, mandiri, dan dewasa. Tidak peduli seberapa banyak kata penyesalan itu muncul, saya harus tetap berjalan karena waktu tidak akan menunggu.  

Jangan menyesali apapun yang terjadi. Karena ketahuilah, barangsiapa yang percaya pada Tuhannya, maka dia akan tahu persis, apapun terjadi adalah skenario terbaik. Jika hari ini tidak kita pahami, semoga besok lusa bisa melihat hikmahnya. Rencana-rencana milik manusia, digabungkan semuanya, 7 milyar, tetap terlalu kecil dibanding rahasia milik Tuhan.

*Tere Liye, novel "Tentang Kamu"

            

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wawancara Pertama Gagal

Keep open your eyes!