Harun al-Rasyid


    Sudah 40 hari 40 malam Baginda Harun al-Rasyid dari Kerajaan Seribu Satu Malam tidak bisa tidur, tidak bisa makan, tidak bisa minum, dan tidak bia tersenyum. Lalu beliau bercengkrama ke Laut Mati untuk berenang selama 40 hari 40 malam, namun tak juga mampu menanggulangi duka nestapa yang mengharu biru dirinya.
    Dalam alunan Laut Mati itu, Baginda siang malam telentang seperti telangtang di atas peraduan istananya—kadar garam yang sangat tinggi menyebabkan orang selalu terapung, tak bisa tenggelam di Laut Mati itu—memikirkan bangsanya yang sudah dilanda kebudayaan korupsi. Baginda mengadu kepada Allah berkenan membebaskan bangsanya dari cengkraman gurita korupsi.
    Alllah Yang Maha Kepujian tidak menjawab keluh-kesah Harun al-Rasyid. Allah hanya mengirim kepada Raja itu Malaikat Izrail, Malaikat Maut. Kata Izrail, “Saya mendapat tugas untuk mengganti umat baginda yang korup dengan umat yang baru.” Mendengar tutur Izrail ini, Baginda langsung meratap. Seketika Sungai Tigris dan Sungai Eufrat meluap airnya lantaran dilada air mata Baginda sehingga kafilah-kafilah terhenti mematung seperti area-area bangsa Romawi yang banya menghiasi plaza-plaza.
    Di atas bukit, dengan didampingi baginda yang masih menangis, Izrail mulai siap melaksanakan tugasnya. Izrail, yang seluruh tubuh dan sayapnya diepnuhi mata, mencabut nyawa mahluk hidup hanya dengan mengedipkan matanya. Maka dikedip-kedipkannya matanya ke seluruh penjuru kota, yang membuat terkulai seluruh rakyat Baginda. Begitu meninggal, lenyaplah jasadnya yang serta-merta digantikan manusia-manusia baru yang seolah tumbuh dari ketiadaan. Manusia-manusia baru itu serta-merta menjadi rakyat Kerajaan Seribu Satu Malam, yang begitu saja mengenali rajanya. Baginda yang masih menangis hanya bisa terbengong-bengong memandang keajaiban ini.
    Kata Baginda Harun al-Rasyid kepada Malaikat Izrail, “Cabutlah nyawaku juga. Sebenarnya sumber dosa adalah diriku. Aku tidak tahu kenapa rakyatku menjadi koruptor padahal aku bukan koruptor. Karena aku tidak bisa diteladani maka aku minta digantikan oleh raja yang baru juga.”Permintaan Baginda Harun al-Rasyid itu dikabulkan Allah yang menggantikannya dengan raja baru yang serta-merta menyatu dengan rakyatnya.


Danarto. (2016). Cahaya Rasul. Yogyakarta: Diva Press.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wawancara Pertama Gagal

Demi Masa

Keep open your eyes!